Pemanfaatan pekarangan punya banyak manfaat, antara lain:
Sumber Pangan Keluarga: Kita bisa menanam sayuran, buah-buahan, dan bumbu dapur sendiri. Jadi, tidak perlu selalu membeli di pasar. Ini artinya menghemat pengeluaran harian dan memastikan ketersediaan pangan yang sehat.
Gizi Keluarga Terjamin: Sayuran dan buah yang ditanam sendiri umumnya lebih segar dan bebas pestisida. Ini penting untuk kesehatan dan gizi keluarga, terutama anak-anak.
Peningkatan Ekonomi: Hasil panen yang berlebih bisa dijual ke tetangga atau pasar. Kita juga bisa membudidayakan ikan atau ternak kecil di pekarangan. Ini adalah potensi penghasilan tambahan bagi keluarga.
Lingkungan Asri dan Sehat: Pekarangan yang tertata dan hijau membuat suasana rumah lebih nyaman, sejuk, dan indah. Ini juga membantu meningkatkan kualitas udara di sekitar rumah kita.
Pemanfaatan Limbah: Sisa makanan atau sampah dapur bisa dijadikan pupuk kompos untuk tanaman di pekarangan, mengurangi limbah rumah tangga.
Edukasi Anak: Anak-anak bisa belajar tentang bercocok tanam, menghargai alam, dan proses tumbuhnya makanan mereka.
Konsep Optimalisasi Pekarangan
Optimalisasi pekarangan berarti memaksimalkan setiap jengkal lahan pekarangan dengan berbagai jenis usaha tani yang terintegrasi. Konsep yang umum dikenal adalah Pekarangan Terpadu atau Kebun Gizi Keluarga.
Prinsip Dasarnya:
Diversifikasi Tanaman: Jangan hanya menanam satu jenis tanaman. Tanam berbagai macam sayuran, buah, bumbu dapur, dan tanaman obat.
Pemanfaatan Ruang Vertikal: Jika lahan sempit, manfaatkan dinding atau buat rak bertingkat untuk menanam dengan sistem vertikultur atau hidroponik sederhana.
Integrasi dengan Ternak/Ikan: Jika memungkinkan, pelihara ayam, bebek, kelinci, atau ikan dalam kolam kecil. Kotoran ternak bisa jadi pupuk, dan sisa tanaman bisa jadi pakan ternak.
Daur Ulang Limbah: Olah limbah organik rumah tangga (sisa sayuran, kulit buah) menjadi pupuk kompos atau pakan ternak.
Jenis Tanaman yang Cocok untuk Pekarangan
Pilihlah tanaman yang cepat panen, mudah dipelihara, dan sesuai dengan kebutuhan keluarga atau pasar lokal.
Sayuran Daun: Sawi, kangkung, bayam, selada, caisim, daun singkong, kemangi. Ini cepat panen dan kaya gizi.
Sayuran Buah: Cabai, tomat, terong, timun, buncis, kacang panjang, labu.
Tanaman Umbi: Ubi jalar, singkong (untuk daun dan umbi).
Bumbu Dapur: Jahe, kunyit, lengkuas, serai, kencur, daun salam, pandan. Selalu dibutuhkan di dapur dan harganya sering fluktuatif.
Tanaman Obat (TOGA): Lidah buaya, kumis kucing, sambiloto, mengkudu.
Buah-buahan: Pepaya, pisang, jambu, jeruk limau/nipis (pilih varietas yang tidak terlalu besar).
Cara Praktis Mengoptimalkan Pekarangan
Tidak perlu lahan luas atau modal besar, kita bisa mulai dari yang sederhana:
Perencanaan Awal:
Amati pekarangan: Berapa luasnya? Mana bagian yang kena sinar matahari penuh? Mana yang teduh?
Tentukan prioritas: Mau fokus sayuran, buah, atau kombinasi?
Buat denah sederhana: Tentukan lokasi untuk bedengan, pot, atau area ternak/ikan.
Penyiapan Media Tanam:
Bedengan: Gemburkan tanah, tambahkan pupuk kandang atau kompos.
Dalam Pot/Polybag: Gunakan campuran tanah subur, pupuk kandang/kompos, dan sedikit sekam. Ini cocok untuk lahan sempit atau jika tanah pekarangan kurang subur.
Vertikultur: Manfaatkan botol bekas, pipa paralon, atau bambu yang disusun vertikal.
Pemilihan Bibit/Benih:
Pilih bibit/benih unggul yang sehat dan bebas hama penyakit.
Bisa beli di toko pertanian atau membuat sendiri dari sisa buah/sayur.
Penanaman:
Tanam sesuai jarak tanam yang dianjurkan.
Untuk sayuran daun, bisa disemai dulu atau langsung tanam.
Pemeliharaan:
Penyiraman: Lakukan rutin, terutama pagi dan sore hari.
Pemupukan: Gunakan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang secara berkala.
Penyiangan Gulma: Cabut rumput liar agar tidak bersaing nutrisi dengan tanaman utama.
Pengendalian Hama Penyakit: Lakukan secara alami (misalnya dengan pestisida nabati) atau secara manual.
Panen:
Panen pada waktu yang tepat agar hasilnya optimal.
Panen secara berkala agar tanaman bisa terus berproduksi.
Pemanfaatan Limbah Organik:
Buat lubang biopori atau bak komposter sederhana di pekarangan.
Masukkan sisa-sisa dapur dan sampah organik lainnya untuk diolah menjadi kompos.
Integrasi Ternak atau Ikan (Jika Memungkinkan)
Ayam/Bebek: Bisa dipelihara di kandang sederhana. Kotorannya sangat baik untuk pupuk tanaman.
Ikan Lele/Nila: Budidaya di kolam terpal atau drum bekas. Air kolam yang mengandung kotoran ikan bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman (sistem akuaponik sederhana) yang sangat kaya nutrisi.
Tantangan dan Solusi
Lahan Sempit: Gunakan pot/polybag, vertikultur, atau hidroponik sederhana.
Kurang Air: Manfaatkan tadah hujan, atau gunakan metode irigasi tetes sederhana.
Kurang Pengetahuan: Ikuti penyuluhan, baca buku, atau bertanya pada petani lain yang sudah berhasil.
Hama Penyakit: Gunakan cara alami, atau konsultasi dengan PPL terdekat.
Penulis : Junianti, SP
Penyuluh Pertanian BPP Lamuru

Pendayagunaan Penyuluh Pertanian Mendukung Swasembada Pangan Melalui Desiminasi Teknologi Informasi
REDAKSI
Tentang KamiKontak