JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa ketahanan pangan nasional hanya bisa dicapai jika dimulai dari kemandirian petani lokal. Petani diharapkan mampu meningkatkan produksi dan kualitas buah-buahan lokal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan bahkan berpotensi untuk ekspor.
"Petani tidak boleh hanya menjadi pelaku produksi, tetapi harus menjadi pelaku utama perubahan," ujar Mentan Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian dalam mendukung karakter petani mandiri.
“Penyuluh Pertanian adalah garda terdepan dalam mengedukasi petani untuk kegiatan budidaya pertanian, sehingga mampu menjaga kualitas hasil, bernilai ekonomi tinggi untuk menghadapi perubahan iklim dan dinamika pasar,” ucap Kabadan Santi.
Sementara, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Tedy Dirhamsyah menyoroti pentingnya peran kelembagaan dan kolaborasi multipihak dalam pengembangan kawasan pertanian berdaya saing.
Menindaklajutinya, pada acara Ngobrol Asyik Penyuluhan (Ngobras) Volume 22 yang dilaksanakan pada Selasa, 15 Juli 2025 bertemakan "Membangun Kemandirian Petani melalui Budidaya Durian Rancamaya", menghadirkan narasumber, Penyuluh Pertanian Terampil dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Agus Faisal.
Dalam kesempatan tersebut, Agus menyampaikan bahwa wilayah Rancamaya memiliki agroklimat yang sangat cocok untuk durian, dengan lahan seluas 3,5 hektare yang telah ditanami durian. Ia telah mendampingi petani setempat mengembangkan durian sebagai komoditas unggulan berbasis wilayah, dimulai dari penyediaan bibit unggul, pelatihan teknis, hingga pengembangan agrowisata.
Budidaya durian Rancamaya bukan sekadar menanam pohon, tapi menanam harapan. Harapan akan kemandirian petani, pelestarian varietas lokal dan tumbuhnya ekonomi masyarakat.
"Program ini juga menjadi ruang kolaborasi antar penyuluh dan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk memanfaatkan potensi lokal, sehingga program ini berhasil meningkatkan pendapatan petani hingga dua hingga tiga kali lipat," ungkap Agus.
Agus menambahkan jika Pemerintah Kota Bogor melalui DKPP bersama mitra dari sektor swasta dan UMKM telah menyiapkan langkah hilirisasi dan branding, “Durian Rancamaya” sebagai produk unggulan agrowisata.
"Lewat sinergi antara petani, pemerintah daerah, swasta, akademisi, dan komunitas, budidaya durian Rancamaya bisa menjadi contoh pendekatan pentahelix untuk membangun desa tangguh pangan," tambahnya.
Di sesi tanya jawab, penyuluh dan petani menunjukkan antusiasme tinggi terhadap materi yang disampaikan. Salah satu petani menanyakan terkait rasa durian di lapangan yang seringkali rasanya tawar.
Agus menjelaskan, bahwa rasa durian yang tawar diawal musim umumnya disebabkan oleh dominasi musim hujan dan kekurangan unsur hara, terutama kalium. Kalium perlu ditambahkan saat pembungaan dan pembentukan buah, ditambah menjelang pematangan untuk meningkatkan rasa manis.
Faktor lainya adalah, varietas yang kurang unggul dan kelebihan nitrogen menjadikan penurunan kualitas rasa karena menekan penyerapan kalium. Solusinya adalah pemupukan seimbang, pemilihan varietas unggul, dan paparan sinar matahari yang cukup untuk mendorong pembentukan gula alami dalam buah, jelas Agus.
Pada akhirnya, keberhasilan budidaya durian Rancamaya tidak hanya ditentukan oleh teknik dan teknologi, tetapi juga oleh karakter dan mental para pelaku utamanya petani dan penyuluh. Konsistensi, fokus, serta komitmen untuk menjaga kualitas menjadi kunci utama dalam membangun pertanian yang mandiri dan berkelanjutan.

Pendayagunaan Penyuluh Pertanian Mendukung Swasembada Pangan Melalui Desiminasi Teknologi Informasi
REDAKSI
Tentang KamiKontak