Diseminasi Teknologi

Pengendalian Hama Penghisap Buah Kakao

Senin, 28 Jul 2025
Sumber Gambar :

Hama Helopeltis spp. menjadi salah satu hama penting kedua setelah penggerek buah kakao (PBK). Serangan Helopeltis spp. pada tanaman kakao dapat menurunkan produksi hingga 50% dan meningkatkan biaya produksi hingga 40%. Helopeltis spp. menyerang saat pagi dan sore hari karena tidak menyukai keberadaan cahaya, sehingga ketika siang hari hama ini biasanya bersembunyi di bagian tanaman yang gelap, seperti: sela-sela atau bagian daun yang menghadap ke bawah. Populasi dan serangan Helopeltis spp. umumnya meningkat saat musim hujan karena pada musim hujan intensitas penyinaran matahari semakin kecil, kelembaban udara semakin tinggi, dan kecepatan angin semakin rendah. Kondisi ini sangat sesuai untuk perkembangan Helopeltis spp.

 Bagaimana strategi pengendalian hama Helopeltis spp.

Pengendalian populasi hama Helopeltis spp. pada tanaman kakao dilakukan melalui konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Strategi pengendalian yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Sanitasi kebun. Kebun yang kotor mendukung perkembangan Helopeltis  karena banyak gulma yang menjadi inang alternatifnya sehingga perlu dilakukan pembersihan gulma di sekitar pertanaman kakao. Beberapa jenis gulma yang menjadi inang alternatif Helopeltis spp., yaitu: Mikania micrantha, Mikania cordata, Chromolaena odorata, Bidens biternata, Lantana camara, dan Melastoma malabethricum.
  2. Pemangkasan dengan membuang tunas air (wiwilan) di sekitar cabang-cabang utama setiap dua minggu dapat mengurangi populasi Helopeltis  karena tunas air merupakan salah satu tempat peletakan telur Helopeltis spp. Pemangkasan juga dilakukan untuk mengatur tinggi tanaman kakao agar pertumbuhannya tidak melebihi 4 m sehingga memudahkan dalam pemeliharaan dan saat panen. Selain itu, pemangkasan terhadap pohon penaung agar kebun tidak rimbun dan memicu perkembangan OPT.
  3. Pengendalian secara biologi dilakukan dengan menggunakan musuh alami yang menyerang Helopeltis  seperti: predator, parasitoid, dan patogen serangga.
  • Beberapa jenis predator Helopeltis , antara lain: Coccinella sp., semut hitam (Dolichoderus thoracicus) dan semut merah (Oecophylla smaragdina). Keefektifan predator dalam mengendalikan Helopeltis spp. membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Semut hitam dan semut merah dapat mengganggu imago Helopeltis spp. yang akan meletakkan telur atau mengisap buah karena diserang oleh semut tersebut. Untuk meningkatkan populasi semut perlu dipasang sarang buatan yang dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa yang diletakkan pada bagian bawah jorget atau cabang tanaman kakao.  Untuk menghadirkan semut dapat dilakukan dengan menempatkan atau memindahkan koloni semut, misal dengan menggunakan sayatan kulit buah kakao yang sudah terdapat koloni semut dan kutu putih.
  • Pemanfaatan Agens Pengendali Hayati (APH) berupa jamur entomopatogen Beauveria bassiana dosis 1-1,5 kg biakan padat/ha atau 25-50 g spora/ha dengan volume semprot 500 l/ha.
  1. Pengendalian Helopeltis  secara mekanik dapat dilakukan dengan sarungisasi buah kakao sehat yang berukuran 8-12 cm dan salah satu ujung plastik dibiarkan tetap terbuka untuk sirkulasi udara. Buah kakao yang disarungisasi dengan kantung plastik akan terhindar dari serangan Helopeltis spp. Namun cara ini tidak dianjurkan diterapkan pada kebun kakao yang endemis penyakit busuk buah.
  2. Pengendalian dengan memanfaatkan insektisida nabati antara lain: serai wangi, minyak biji mimba, ekstrak biji srikaya, minyak selasih dan limbah tembakau.
  3. Pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi insektisida sintetik yang dilakukan secara bijaksana dengan memperhatikan alat aplikasi, jenis insektisida, hama sasaran, dosis/konsentrasi, cara, dan waktu aplikasi yang tepat.

 

Disusun Oleh      : Edwin Herdiansyah, SP

Sumber                : Yuni Astuti dan Ratri Wibawanti, Direktorat Jenderal Perkebunan

Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook