Dalam meningkatkan swasembada pangan di Provinsi Lampung, khususnya di Kabupaten Pesawaran, tikus merupakan salah satu hama yang sangat mengganggu tanaman padi, sehingga memerlukan perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh. Hama ini dapat menyebabkan penurunan hasil hingga 37%. Tikus akan merusak tanaman padi, ratarata rumpun padi yang terpotong oleh seekor tikus meningkat mulai dari saat primordia (7,1 rumpun tiap malam), stadia bunting (11,9 rumpun tiap malam) hingga stadia keluar malai (13,2 rumpun tiap malam). Hama tikus dapat merusak tanaman padi hingga 80% dalam satu malam. Kerusakan terparah terjadi pada fase generatif, karena tanaman padi sudah tidak mampu lagi membentuk anakan baru.
Ledakan hama tikus di padi dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya: 1. Tersedia pakan padi 2. Siklus hama tikus tidak terputus 3. Tidak ada antisipasi pembersihan lahan dan pengemposan lubang tikus 4. Kelangkaan musuh alami tikus, seperti ular dan burung hantu.
Pengembangan teknologi pengendalian hama tikus pada dasarnya bertitik tolak dari pemahaman terhadap karakter bioekologi tikus seperti: (1) sistem reproduksi; (2) faktor pakan; (3) penggunaan habitat; (4) dinamika populasi dan (5) pergerakan atau migrasi serta faktor-faktor lainnya. Teknologi pengendalian yang dirancang dengan menyesuaikan karakter bioekologi hama tikus tersebut, diyakini dapat menjadi teknologi pengendalian yang efektif. Teknologi pengendalian tersebut selain efektif, juga harus mudah dan murah untuk diterapkan agar dapat diadopsi oleh petani secara berkelanjutan.
1. Teknologi Linear Trap Barrier System (LTBS)
LTBS dikembangkan berdasarkan pemahaman habitat, pergerakan dan pakan tikus. Tikus sawah yang bersarang ditanggul irigasi pada malam hari akan keluar dari sarang dan bergerak menuju areal pertanaman padi. Oleh karena itu dirancang teknik penangkapan tikus dengan kombinasi multiple life trap atau bubu perangkap dan pagar plastik. Unit perangkap tersebut dipasang di dekat habitat tikus pada sore hari, dan pada malam hari unit perangkap tersebut berkerja menangkap tikus dalam jumlah besar dan tanpa efek jera. Teknik ini kemudian dikenal sebagai LTBS yang merupakan sistem perangkap tikus tanpa menggunakan umpan yang paling efektif. LTBS dirancang dapat dipasang dan di bongkar untuk dipindahkan ke tempat penangkapan tikus lainnya. LTBS juga dapat dipasang permanen untuk memagari pertanaman padi guna melindungi tanaman dari serangan tikus sejak tanam hingga panen. Penggunaan LTBS permanen dikelola oleh petani secara berkelompok pada setiap luasan sawah antara 5 sampai 10 hektar. Teknologi LTBS merupakan teknologi yang paling efektif untuk menangkap tikus migrasi akibat perbedaan waktu tanam.LTBS dengan bubu perangkap yang diperbesar pernah dapat menangkap tikus sawah hingga mencapai 26.298 ekor dalam waktu 14 hari selama periode tikus migrasi.
2. Teknologi Trap Barrier System (TBS)
Inovasi teknologi TBS dirancang atas dasar ketertarikan tikus sawah yang sangat tinggi terhadap tanaman padi bunting. Padi bunting dan malai padi mengandung senyawa volatil bersulfur yang disukai tikus sawah Oleh karena itu tanaman padi bunting dapat dimanfaatkan sebagai penarik atau perangkap tikus (trap crop). TBS terdiri dari tiga komponen utama yaitu: (1) petak tanaman trap crop sebagai penarik tikus dari sekitarnya; (2) pagar plastik berfungsi menggiring atau mengarahkan tikus masuk ke dalam bubu perangkap dan (3) bubu perangkap berfungsi sebagai jebakan untuk menangkap dan mengumpulkan tikus.
TBS dengan petak trap crop berukuran 25 m x 25 m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari pertanaman di sekitarnya, efektif menangkap tikus sawah terus-menerus sejak dipasang hingga panen. Sedangkan TBS dengan trap crop pesemaian padi efektif melindungi pesemaian padi dari serangan tikus. Pemasangan TBS pesemaian juga sangat strategis karena merupakan bentuk pengendalian dini yang menurunkan populasi tikus sejak awal tanam.
TBS mempunyai halo effect dan luas petak TBS berpengaruh terhadap jumlah tangkapan tikus. TBS berukuran 25m x 25m dapat mengampu 10 ha tanaman padi di sekitarnya dari serangan hama tikus. Penggunaan TBS secara ekonomi menguntungkan dan untuk diterapkan di daerah endemik hama tikus dengan pengelolaan secara berkelompok oleh petani.
3. Konsep Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT)
Prinsip dasar PHTT adalah pengintegrasian penerapan teknologi pengendalian hama tikus secara terpadu, baik dari aspek teknis terkait teknologi budidaya, maupun non teknis seperti aspek sosial dan kelembagaan petani. PHTT merupakan pengendalian tikus berbasis bioekologi berskala kawasan, berkelanjutan dan berdampak positif dalam jangka panjang. Oleh karena itu prinsip dasar yang membangun PHTT adalah: (1) pengendalian yang didasarkan pada pemahaman bioekologi; (2) berorientasi pengendalian dini, berskala luas, berwawasan lingkungan dan (3) mengintegrasikan teknologi efektif, melibatkan petani dan terkoordinasi.
Berdasarkan prinsip-prinsip dasar tersebut, maka PHTT didefinisikan sebagai “pengendalian hama tikus yang didasarkan pada pemahaman bioekologi, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan inovasi teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu, dilakukan oleh petani secara bersamasama dan terkoordinasi dengan sasaran pengendalian berskala luas.
Tiga prinsip utama penerapan PHTT untuk pengendalian hama tikus sawah pada tanaman padi yaitu:
1. Koordinasi anggota kelompok tani
Sasaran pengendalian tikus dan konsep PHTT ditujukan untuk pengendalian tikus berskala kawasan atau hamparan sawah 50-100 ha, yang harus dilakukan secara bersama-sama dan serentak. Pada kegiatan ini dilakukan bimbingan kepada petani untuk memahami konsep PHTT dan juga praktik penerapannya. Oleh sebab itu aspek sosialisasi, koordinasi dan pengorganisasian kelompok tani, atau rekayasa sosial menjadi sangat penting dan menentukan.
Koordinasi ditujukan untuk membangun komitmen bersama para petani dalam menetapkan: (1) budidaya terkait dengan pola tanam, waktu tanam, dan pilihan varietas; (2) identifikasi dan monitoring populasi dan (3) opsi tindakan pengendalian terkait waktu dan pilihan teknologi yang digunakan. Keterlibatan anggota kelompok tani, penyuluh, narasumber dan stake holder lainnya yang terkait sangat penting dan strategis dalam penerapan PHTT. Pertemuan juga dilakukan untuk membangun persepsi, komitmen, penguasaan teknis pengendalian, dan untuk pengerahan anggota kelompok.
2. Pengendalian Dini Periode Pra-Tanam
Salah satu kunci keberhasilan PHTT adalah kemampuan menurunkan tingkat populasi hama tikus lebih dini sebelum tanam, yaitu pada periode bera dan pengolahan tanah. Beberapa alasan penting dilakukan pengendalian dini karena: (1) populasi tikus dapat terkendali sejak awal tanam sebelum tanaman padi memasuki fase primordia; (2) pengendalian pra-tanam lebih mudah dan efektif dilaksanakan karena kondisi lingkungan sawah masih terbuka dan (3) para petani belum intensif menggarap lahannya (off land). Pengendalian tikus sawah pada periode pra-tanam mengintegrasikan secara simultan beberapa komponen teknologi yaitu: (1) kultur teknis; (2) sanitasi dan manipulasi habitat; (3) “gropyokan” tikus massal dan (4) penggunaan TBS.
Kultur teknis meliputi pengaturan pola tanam dan waktu tanam serempak untuk membatasi ketersediaan pakan tikus, mencegah ledakan populasi dan migrasi tikus. Perbedaan waktu tanam tidak lebih dari 3 minggu di dalam satu hamparan sawah antara 50-100 ha. Sanitasi dan manipulasi habitat tikus dilakukan dengan cara membersihkan berbagai gulma tanaman dan mengurangi lebar ukuran pematang sawah. Sanitasi dan manipulasi habitat bertujuan untuk membuat habitat di sekitar areal lahan pertanian tidak disukai oleh tikus untuk bersarang dan berkembangbiak.
Pada periode pra-tanam, kegiatan “gropyokan” tikus yang dilakukan secara massal, serentak dan berskala luas, sangat strategis karena dapat menurunkan populasi tikus signifikan. Pada periode sawah bera dan olah tanah, tikus berkumpul pada habitathabitat utama, sehingga lebih mudah untuk dilakukan. pengendalian. Pemasangan TBS juga berfungsi menurunkan populasi tikus sejak pra-tanam hingga tanaman trap crop dipanen.
3. Pengendalian Periode Setelah Tanam
Pengendalian tikus sawah pada periode setelah tanam juga sangat strategis karena serangan tikus dapat terjadi mulai dari pesemaian hingga panen, sehingga manitoring dan tindakan pengendalian harus dilakukan secara berkelanjutan.
Komponen teknologi pengendalian yang diintegrasikan pada periode setelah tanam antara lain: (1) pemasangan LTBS; (2) fumigasi sarang dan (3) konservasi musuh alami. LTBS yang dipasang permanen berfungsi sebagai penangkal dan penjebak tikus sawah sejak mulai dipasang pada awal tanam hingga panen. LTBS bekerja dengan menghalangi tikus yang akan memasuki lahan pertanaman padi dan diarahkan untuk masuk ke dalam bubu perangkap. Oleh karena itu LTBS dapat diandalkan untuk mencegah serangan tikus sejak dari tanam hingga panen. Selain itu kegiatan fumigasi sarang tikus sangat fleksibel dilakukan dan telah terbukti efektif. Fumigasi sarang tikus diutamakan pada periode padi generatif karena tikus betina sedang beranak di dalam sarangnya. Fumigasi pada periode ini dapat mematikan induk tikus beserta anaknya di dalam sarang. Tikus sawah merupakan mangsa dari organisme lainnya atau predator, sesuai siklus rantai makanan dalam sistem ekologi. Konservasi musuh alami beberapa jenis predator tikus seperti burung hantu, ular, garangan dan lainnya dapat bermanfaat dalam menekan populasi tikus sawah secara alami. Melindungi predator antara lain dapat dilakukan dengan mengurangi pemakaian pestisida yang berdampak negatif terhadap predator, menyediakan habitat dan sarang buatan untuk berkembangbiak dan membuat aturan pelarangan penangkapan berbagai jenis predator di ekosistem sawah. Menjaga dan melindungi predator tikus sawah merupakan salah satu cara untuk mengefektifkan pengendalian hayati.
Ditulis Kembali : Ely Novrianty (BRMP Lampung)
Sumber:
Direktorat Serealia., Ditjen Tanaman Pangan., Kementerian Pertanian. 2025. Petunjuk Budidaya Padi Lahan Kering/Padi Gogo. Jakarta.

Pendayagunaan Penyuluh Pertanian Mendukung Swasembada Pangan Melalui Desiminasi Teknologi Informasi
REDAKSI
Tentang KamiKontak