Padi gogo merupakan salah satu tanaman pangan yang berpotensi untuk dikembangkan. Padi gogo ialah tanaman padi yang ditanam di tanah tegalan. Padi gogo tidaklah membutuhkan air yang banyak dalam penanamannya. Pada umumnya ditanam di daerah tanah kering sehingga banyak kita jumpai di daerah yang berbukit-bukit. Petani padi gogo umumnya termasuk golongan petani miskin yang mempunyai banyak keterbatasan dan belum mengenal teknologi maju. Tanaman padi gogo dapat tumbuh di berbagai agroekologi dan jenis tanah. Persyaratan utama untuk tanaman padi gogo adalah kondisi tanah dan iklim yang sesuai. Faktor iklim terutama curah hujan merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya padi gogo. Hal ini disebabkan kebutuhan air untuk padi gogo hanya mengandalkan curah hujan padahal untuk pertumbuhannya padi gogo juga membutuhkan air. Tanaman padi gogo dapat tumbuh pada daerah daratan rendah sampai daratan tinggi.
Rata– rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan selama3 bulan berturut – turut atau 1.500– 2.000 mm/bulan. Oleh karena itu penanaman yang baik dilakukan setelah terdapat 1 – 2 kali hujan, awal musim peng hujan (Oktober – November) agar kebutuhan air terpenuhi. Meskipunmemiliki umur yang lebih Panjang,namun dari segi kualitas hasil padi gogo tidak kalah dengan jenis padi sawah.
Penamanam padi gogo dapat dilakukan secara tumpangsari dengan tanaman perkebunan. Penanaman padi gogo di lahan perkebunan harus mempertimbangkan kondisi tegakan utama agar tidak terjadi persaingan hara yang berakibat pada penurunan produksi tegakan utama. Selain itu, perlu dipertimbangkan kondisi kanopi tegakan agar tetap memungkinkan transmisi cahaya untuk tanaman sela yang akan ditanam.Salah satu tipe lahan perkebunan yang dapat ditanami padi gogo adalah perkebunan kelapa dalam dan kelapa sawit.
1. Tumpangsari Padi pada Perkebunan Kelapa Sawit
Teknologi tumpang sari padi gogo pada perkebunan kelapa sawit dapat memberikan kontribusi sekitar 20,77% terhadap produksi beras nasional. Penerapan teknologi tumpang sari yang tepat dapat memberikan keuntungan bagi kedua tanaman yang dibudidayakan sehingga dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan kesehatan tanah, dan memberikan manfaat ekonomi yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani
Pada desain penanaman padi di perkebunan kelapa sawit perlu ditekankan pada saat peremajaan menggunakan sistem rumpukan 2:1 (Gambar 19). Dengan desain tersebut lajur rumpukan akan disusu setiap dua lajur pertanaman kelapa sawit. Lajur antara dua lajur kelapa sawit tersebut yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pertanaman padi gogo. Kelapa sawit memiliki 3 tahun masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yang dikenal dengan TBM1, TBM2 dan TBM3. Berdasarkan siklus pertanaman di perkebunan kelapa sawit yang dapat dioptimalkan untuk pertanaman padi hanya pada saat TBM1 dan TBM2, sedangkan TBM3 tidak bisa karena kebun menyiapkan infrastruktur untuk pemanenan. Pada saat TBM 1 luas areal yang dapat dimanfaatkan untuk tumpang sari berkisar antara 25-34%, menyesuaikan dengan jenis tanaman sela yang dipilih. Sementara itu, pada TBM 2, luas areal yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman sela berkisar antara 25-30%.
Penanaman padi gogo di lahan perkebunan kelapa sawit disarankan dengan sistem tugal dengan jarak tanam 30 x 15 cm. Penggunaan jarak tanam yang rapat dengan pertimbangan anakan padi gogo yang sedikit dan sebagai langkah prevetif untuk pengendalian gulma. Jarak tanam dari tanaman utama minimum radius 2 meter atau di luar perakaran tanaman kelapa sawit. Dengan desain pertanaman ini pada 1 Ha lahan perkebunan yang ditumpangsarikan luas areal pertanaman sawit 3.165 m2 dan luas areal pertanaman padi 6.835 m2 dengan populasi tanaman padi 151.886 tanaman.
2.Tumpangsari Padi pada Perkebunan Kelapa Dalam
Intercroppping padi gogo di perkebunan kelapa harus mempertimbangkan umur kelapa, varietas padi dan teknologi budidayanya. Umur kelapa berkaitan dengan luas kanopi yang akan berdampak pada transmisi cahaya yang dapat diterima tanaman padi. Transmisi cahaya (% estimasi) pada pertanaman kelapa pada saat umur tanaman 0-5 tahun sebanyak 100-60%, pada umur tanaman 6-15 tahun sebanyak 60-40% dan >15 tahun sebanyak 60-80%. Dengan transmisi cahaya tersebut ketersediaan area untuk intercropping pada tegakan kelapa dewasa berkisar 30-40%. Jarak tanam dari pohon utama sepanjang kanopi atau berkisar 2 meter dari pohon utama. Dengan jarak tanam padi menyesuaikan dengan sistem tugal padi.
Ditulis kembali : Ely Novrianty (BRMP Lampung)
Sumber:
Direktorat Serealia., Ditjen Tanaman Pangan., Kementerian Pertanian. 2025. Petunjuk Budidaya Padi Lahan Kering/Padi Gogo. Jakarta.

Pendayagunaan Penyuluh Pertanian Mendukung Swasembada Pangan Melalui Desiminasi Teknologi Informasi
REDAKSI
Tentang KamiKontak